Cari Blog Ini

Senin, 14 Mei 2012

Hukum Timbal Balik



Bismillahirrohmanirrohim..

Sobat, apakah kalian sudah pernah membaca buku karya Ahmad Rifa’i Rif’an yang berjudul “ Man Shabara Zhafira” ? Sepertinya sudah semua ya? :D Jika belum, ayo segera beli atau tidak dilarang ko alias gratis untuk pinjam ke teman atau saudara yang terdekat, asalkan sudah dapat ijin ya dari pemiliknya tersebut (harus itu :D ).

Nah dibuku itu ada salah satu judul yang wajib kita baca, khususnya untuk Frontliner yaitu Hukum Timbal Balik. Penasaran? Yuk, kita baca sama-sama kisah inspiratif kali ini, dijamin bagus dan tentunya bisa diambil hikmahnya. :D

Malam itu hujan deras mengguyur Philadelphia. Malam sudah larut. Hawa dingin menusuk belulang semua orang yang berada di luar rumah. Seorang pria tua beserta istrinya memasuki lobi sebuah hotel kecil. Kehadirannya disambut hangat oleh seorang pemuda yang sedang bertugas sebagai resepsionis hotel.

“ Selamat Malam, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya anak muda itu dengan ramah.

“Semua hotel besar di kota ini telah terisi, adakah satu kamar untuk kami di sini?” kata pria tua itu kepada resepsionis hotel.

“Saya mohon maaf sebelumnya semua kamar telah terisi penuh, Pak. Saat ini sedang ada tiga event besar yang diselenggarakan bersamaan di kota ini yang menyebabkan banyak tamu berdatangan.”

Resepsionis itu diam sejenak.

“Tapi, saya tidak bisa membiarkan Bapak dan Ibu berhujan-hujan di luar sana di malam selarut ini. Kalau Bapak dan Ibu tidak keberatan, bagaimana kalau Anda berdua tidur di kamar saya?”

Keduanya berterima kasih. Keesokan harinya saat akan berpamitan, pria tua tersebut berkata kepada resepsionis itu,

“Anak muda, kamulah orang yang seharusnya menjadi bos sebuah hotel terbaik di USA, karena kamu melakukan pekerjaanmu dengan hati yang mau melayani. Do’akan suatu hari nanti saya bisa membangunkan sebuah hotel untukmu.”

Pemuda itu menanggapinya dengan sebuah senyuman dan dengan segera melupakan kata-kata pria tua itu. Anda pasti sudah bisa menebak, bagaimana ending cerita ini. Betul, ending-nya seperti yang Anda pikirkan.

Dua tahun kemudian, sebuah surat datang ke hotel kecil di Philadelphia. Surat itu ditujukan kepada resepsionis muda yang telah melayani pria tua itu dua tahun yang lalu. Surat itu berisi sebuah tiket ke New York dan permintaan agar anak muda itu berkenan menjadi tamu pria tua yang pernah dilayaninya.

Sesampainya di New York, pria tua itu mengajak pemuda itu berjalan-jalan ke sudut jalan antara Fifth Avenue Thirty Fourth Street. Ia menunjukkan sebuah bangunan baru yang luar biasa megah dan mengatakan, “Itulah hotel yang saya bangun untuk kamu kelola.”

Pemuda itu adalah George Charles Boldt, dan pria tua itu adalah William Waldorf Astor. Saat ini Charles Boldt menjadi pimpinan Hotel Waldorf-Astoria. Salah satu hotel terbaik di dunia.

Pelayanan yang tulus kepada orang lain tak pernah memberi dampak kecuali kebaikan. Boleh jadi balasan yang hadir tak tersampaikan seketika. Tetapi yakinlah, Alloh SWT selalu mengamati hamba-hamba-Nya. Dia menyaksikan segala perilaku manusia. Dunia ibarat sebuah cermin. Jika yang kita tampilkan adalah ketulusan, yang terpantul kepada kita adalah ketulusan. Jika yang kita tampilkan adalah pamrih, yang hadir pun adalah pamrih. Pelayanan yang tulus kepada setiap orang adalah salah satu pintu yang disediakan oleh Alloh SWT untuk meraih kesuksesan. Tak hanya kesuksesan di kehidupan abadi, tetapi juga kesuksesan semenjak masih dalam kehidupan di dunia.

Alhamdulillahirrobil’alamiin. Bagaimana Sobat? Kisah nyata ini harus bisa menginspirasi dan memotivasi kita untuk senantiasa memberikan pelayanan yang terbaik ya. Mari kita mulai dari diri kita masing-masing . Saling mengingatkan dan menyemangati juga sangat diperlukan agar kita bisa memperbaiki kekurangan, kesalahan dan senantiasa dapat memberikan banyak manfaat. Seperti sabda baginda nabi kita, suri tauladan kita, yaitu Rosululloh SAW ” Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain ” (HR. Bukhari).

Selamat memberikan pelayanan yang terbaik ^__^

  Sumber: Buku “Man Shabara Zhafira” karya Ahmad Rifa’i Rif’an www.google.co.id/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar