Di
dalam warna hitam ada warna putih dan sebaliknya di dalam warna putih
juga ada warna hitam. Tergantung pada apa yang kita perhatikan atau
fokuskan. Demikian juga dengan komplain dari customer, kalau ada banyak
komplain itu juga berarti atau menandakan bahwa customer kita masih ada
dan loyal serta menginginkan perubahan yang lebih baik.
Paradigma tradisional
Pandangan
tradisional yang menyatakan bahwa komplain pelanggan atau customer
adalah sesuatu yang harus dihindari atau pertanda “kiamat” bagi
organisasi ternyata tidak berlaku pada masa sekarang ini. Terlebih lagi
dalam industri jasa, sifat-sifat jasa menyebabkan “value” yang
diberikan kepada pelanggan tidak mudah untuk distandardisasi. Oleh
karena itu, komplain customer tidak lebih hanya sebagai cara lain untuk
melakukan pemberian “value” tersebut. Justru dengan adanya
komplain customer bisa menghasilkan informasi bagi organisasi, dan bisa
digunakan sebagai alat untuk memonitor bagi efektivitas program customer
service.Namun sayangnya banyak pelanggan atau customer yang memilih
untuk tidak mau menyampaikan komplain. Salah satu penyebabnya ternyata
berasal dari sikap karyawan front liner yang bersikap defensif terhadap komplain customer. Sikap tersebut muncul sebagai bagian dari kultur organisasi yang resistence
terhadap komplain customer. Komplain customer dipersepsikan sebagai
sebuah kegagalan pelayanan.Sebagusnya service tetap saja ada komplain.
Oleh karena itu diperlukan sebuah perubahan pola pikir. Pola pikir tradisional harus diganti dengan pola pikir bahwa komplain customer adalah kesempatan bagi organisasi untuk melakukan pemulihan jasa (service recovery). Sekali lagi komplain adalah hadiah dari pelanggan atau customer, masukan positif dan bukan ancaman.
Mengapa Customer diam?
Sebuah
penelitian membuktikan bahwa hanya sedikit sekali dari pelanggan atau
customer yang tidak puas yang mau memberi komplain kepada organisasi.
Sisa lainnya, “vote with their feet”, dan selebihnya tidak akan
kembali lagi ke organisasi. Selanjutnya customer yang tidak puas secara
tipikal akan menceritakan pengalaman tersebut kepada delapan sampai
sepuluh orang dengan cara dari mulut ke mulut.Jadi customer yang
komplain dari keseluruhan populasi customer yang tidak puas merupakan
jumlah yang sangat kecil. Salah satu penyebab customer tidak mau
komplain adalah: sulitnya untuk melakukan komplain. Sebab untuk
melakukan komplain customer harus mengungkapkan emosinya. Problem
umumnya karena manusia cenderung sulit untuk berbagi perasaan pada orang
lain, kecuali jika customer sudah memiliki hubungan yang cukup dekat
dengan staf organisasi. Yang mengejutkan, bahkan di negara yang sudah
maju sekalipun, kultur yang ada ternyata tidak memberi nilai yang tinggi
pada “revealing feelings”. Untuk dapat mengekspresikan komplain, customer membutuhkan “comfortable ways”
tidak bisa terjadi begitu saja dan atau asal saja. Alasan kedua,
karyawan atau staf organisasi tidak mendorong munculnya komplain atau feedback dari customer. Hal ini terjadi karena banyak karyawan yang memiliki masalah dengan “hearing a complain as feedback”. Meskipun mereka mau mendengarkan komplain atau feedback, akan tetapi karyawan mempersepsikan hal tersebut sebagai sebuah ”serangan” pada self-esteem
mereka. Karyawan tidak mampu membedakan komplain customer sebagai isu
yang berhubungan dengan pekerjaan dan bukan isu siapa mereka sebenarnya.
Dengan
demikian, kapabilitas untuk mendengarkan dan belajar dari komplain
merupakan keterampilan yang harus dikembangkan oleh setiap karyawan,
terutama karyawan front-liner. Mengurangi komplain secara
tradisional disamakan dengan meningkatkan layanan. Sebab, diasumsikan
kalau tidak ada customer yang komplain berarti layanan yang diberikan
minimal sudah sesuai dengan keinginan mereka. Faktanya, justru cara
paling baik untuk membangun kultur customer-focused adalah
melalui peningkatan komplain. Memang dengan adanya komplain merupakan
sebuah pertanda adanya ketidakpuasan. Apabila hal tersebut tidak
ditindaklanjuti, customer akan pindah ke pemasok dan atau merek produk
atau jasa yang lain. Akan tetapi yang paling berbahaya adalah, customer
tidak melakukan tindakan apapun kepada organisasi. Secara diam-diam
mereka “menghukum” organisasi dengan cara “pindah” ke organisasi yang
lain, organisasi yang mereka pandang akan memberikan kepuasan kepada
mereka. Adanya perilaku “switching” secara diam-diam ini
menyebabkan organisasi tidak memiliki kesempatan untuk mempertahankan
customernya. Organisasi tidak memiliki informasi apapun mengenai mengapa
mereka tidak puas dan tidak mau menyampaikan komplain.
Silahkan Komplain
Cara tercepat untuk mengembangkan kultur customer-focused
adalah dengan menghasilkan komplain itu sendiri. Untuk itu organisasi
dapat memulainya dengan mengkomunikasikan kepada karyawan kebutuhan
untuk membentuk hubungan (relationships) dengan customer, Bahwa pelanggan atau customer adalah sebagai mitra (partners).
Jadi, menjadi tugas karyawan untuk memfasilitasi agar setiap customer
mau mengekspresikan komplain mereka. Karyawan sebagai ujung tombak
perusahaan, yang secara langsung berhubungan dengan customer, merupakan
titik kritis untuk meningkatkan jumlah komplain. Ada beberapa hal yang
dapat dilakukan antara lain, Organisasi perlu menolong karyawan agar
memandang komplain sebagai sebuah kesempatan. komplain hanyalah sebuah
cara lain untuk melakukan sesuatu – bukan masalah baik atau buruk, benar
atau salah.
Memperkuat
kultur organisasi ag
ar mempersepsikan komplain sebagai kesempatan.
Sebagai contoh: setiap karyawan ditantang untuk melihat berapa jumlah
komplain yang dapat mereka kumpulkan dalam waktu satu minggu; para
penyelia (supervisor) menilai prestasi bawahannya dengan menggunakan
jumlah komplain sebagai salah satu variabelnya. Pelanggan atau customer
akan berbicara ketika mereka merasakan adanya kemauan untuk mendengarkan
– ketika terdorong untuk merespon. Daripada membuat sapaan kepada
pelanggan atau customer yang bersifat retoris, lebih baik membuat sapaan
yang mendorongnya untuk menjawab. Organisasi dapat mendorong karyawan
untuk menuliskan isu-isu tentang customer. Kalau isu tersebut tidak bisa
direspon dengan segera, berilah jaminan untuk meresponnya dalam waktu
48 jam. Kalaupun isu tersebut benar-benar tidak dapat dicari jalan
keluarnya, organisasi tetap berhutang pada respon customer tersebut.
Masukan positif
Tidak
mengherankan bila komplain customer semakin mendapat perhatian dari
setiap organisasi. Komplain customer bisa menghasilkan informasi bagi
organisasi, dan secara khusus dapat digunakan alat pemonitor bagi
efektivitas program customer service.
Perlu diketahui bahwa biaya
untuk mendapatkan customer baru 5(lima kali) lebih mahal daripada
mempertahankan 1(satu) customer yang sudah ada. Jadi, lebih baik
memuaskan kembali customer yang mengalami masalah atau komplain,
daripada mendapatkan customer baru. Selain itu, hasil penelitian
membuktikan bahwa perlakuan yang tepat pada customer yang komplain akan
membuat mereka jauh lebih puas (bahkan sampai tahap delight) dan loyal dibanding dengan customer yang tidak menyampaikan komplain.
Oleh
karena itu, apabila ada pelanggan atau customer yang komplain, situasi
ini memberi kesempatan kepada organisasi untuk melakukan pemulihan jasa (service recovery). Pada saat ini, pemulihan jasa telah menjadi komponen utama dari keseluruhan pemberian jasa (overall service delivery).
Pelanggan atau customer yang komplain bisa berubah menjadi customer
yang loyal apabila organisasi dapat menangani komplain tersebut dengan
sebaik-baiknya
Sumber :
http://www.mditack.co.id/news/130-komplain-sebagai-masukan-positif-dari-customer
Tidak ada komentar:
Posting Komentar